Maraknya tren berbisnis di dunia maya berdampak
pada jumlah pengusaha online yang semakin banyak. Bisnis yang
dijalankan dengan menggunakan koneksi internet ini memudahkan pemasaran
seller melalui website dan media sosial. Pasalnya, semakin banyak teknologi internet yang digunakan
seller untuk berjualan, semakin besar pula kemungkinan ia menjadi korban kejahatan dunia maya atau
cyber crime.
Ketua
House’s Subcommittee on Health & Technology Chris
Collins mengatakan, usaha kecil dan menengah (UKM) online adalah sasaran
empuk para pelaku kejahatan dunia maya. Penyebabnya adalah minimnya
kontrol terhadap media sosial dan kurangnya pengetahuan
seller
tentang teknologi. Selain itu, tidak semua UKM memiliki sumber daya
manusia yang paham mengenai teknologi informatika. Faktor-faktor inilah
yang menyebabkan
seller dan bisnisnya rentan terhadap kejahatan dunia maya.
Di samping itu, banyak
seller yang cuek dan terlalu yakin
bahwa mereka tidak akan menjadi korban sebab bisnis yang mereka jalani
bukanlah bisnis besar yang dapat memberikan keuntungan bagi para pelaku
kejahatan dunia maya. Menurut Collins, pemikiran semacam ini sangatlah
salah. Siapapun yang menggunakan koneksi internet dapat menjadi korban
kejahatan dunia maya.
Untuk mengurangi risiko ancaman kejahatan di dunia maya, Collins menyebutkan beberapa strategi yang dapat dilakukan
seller.
- Buatlah kebijakan tertulis tentang penyimpanan dokumen.
Menurut Collins, penyebab utama terjadinya kasus kejahatan dunia maya
adalah minimnya pengetahuan dan pendidikan teknologi yang dimiliki
pemilik bisnis beserta stafnya. Pebisnis online beserta seluruh staf
harus tahu tentang perkembangan teknologi terbaru agar mereka bisa
terhindar dari berbagai bentuk kejahatan dunia maya.
Pendiri ClickCloud Dan Shapero mengatakan, membuat kebijakan tertulis
mengenai media penyimpanan dokumen pekerjaan bisa mengurangi risiko
kejahatan dunia maya. Pemilik bisnis harus mengambil kebijakan apakah
stafnya diperbolehnya menyimpan dokumen pekerjaan di perangkat keras
milik pribadi atau tidak.
Perangkat keras milik personal seperti laptop sering digunakan di
luar area perusahaan. Artinya, kemungkinan untuk hilang atau dicuri
sangatlah besar. Dokumen pekerjaan yang ada di dalamnya pun akan ikut
hilang. Jika seluruh dokumen pekerjaan disimpan di perangkat keras milik
perusahaan, kemungkinan untuk hilang atau dicuri akan semakin kecil.
Ini dapat meminimalisir kemungkinan penyalahgunaan dokumen pekerjaan
oleh pelaku kejahatan dunia maya.
- Gunakan kata sandi yang rumit.
Pemilik bisnis dan stafnya kadang tidak ingin repot mengingat kata
sandi untuk mengakses data, dokumen, atau koneksi internet perusahaan.
Kerap terjadi, kata sandi untuk mengakses dokumen dan media tersebut
mengandung nama perusahaan, yang pastinya mudah ditebak oleh pelaku
kejahatan dunia maya.
Jika kata sandi tersebut adalah sebuah kata yang umum atau kata yang bisa ditebak hanya berdasarkan informasi dari publik,
hacker
akan mudah mengetahui kata sandi itu. Semakin rumit kata sandi yang
digunakan, semakin kecil kemungkinan dokumen, uang, atau rekening
pebisnis online diakses oleh
hacker.
- Enkripsikan data dan dokumen.
Usaha perlindungan data seketat apapun tetap tidak menutup kemungkinan bagi
hackers untuk masuk ke dalam jaringan
seller. Untuk itu, ada baiknya
seller
mengenkripsikan data dan dokumen perusahaannya. Ada banyak perangkat
lunak yang dapat digunakan untuk melakukan enkripsi data. Perangkat
lunak tersebut akan mengkonversi dokumen menjadi kode-kode yang sulit
untuk diterjemahkan oleh
hacker.